بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Ini adalah tugas berikutnya dari mata kuliah Sosiologi Komunikasi, semoga bermanfaat ^_^
BAB
I
PENGERTIAN
DAN RUANG LINGKUP KOMUNIKASI MASSA
PENDAHULUAN
Mungkinkah kita tidak berkomunikasi?
Setiap hari, setiap saat, kita pasti berkomunikasi. Sejak bangun tidur sampai
kembali hendak berangkat tidur, kita selalu berkomunikasi. Komunikasi setia
mendampingi kita. Hasil penelitian menunjukkan, 70 persen waktu bangun kita
digunakan untuk berkomunikasi. Ini berarti, komunikasi tidak saja telah menjadi
symbol eksistensi kita tetapi sekaligus juga mampu menampilkan dirinya sebagai
sumber referensi terkaya ketika memberikan pencerahan terhadap kehidupan dan
peradaban.
Hasil penelitian lain di suatu perusahaan
di Amerika Serikat menunjukkan, pimpinan tingkat atas dan menengah, meluangkan
60-80 persen waktu kerjanya hanya untuk berkomunikasi. Juga, sedikitnya 50
persen waktu kerja para mandor digunakan untuk berkomunikasi. Dari keseluruhan
waktu yang digunakan para mandor itu, 60 persen dengan para bawahan, 30 persen
dengan atasan mereka, dan 10 persen dengan orang-orang lain yang setingkat
dalam perusahaan. ( Moekijat, 1993: 1 )
PENGERTIAN KOMUNIKASI
Dalam teori komunikasi sebagai defisini
etimologis. Komunikasi berasal dari
bahasa Inggris communication. Dan
kata communication berasal dari kata
dalam bahasa Latin communicatio. Kata
ini pun ternyata masih harus dilacak lagi jauh ke belakang. Kata communicatio
itu sendiri, bersumber dari kata communis
yang berarti sama. Sama di sini maksudnya sama makna. Jadi kalau dua orang
terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi
akan berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang digunakan dalam
percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan
makna. Dengan perkataan lain, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti
makna yang dibawakan oleh bahasa itu ( Effendy, 1984: 1 )
Artinya, komunikasi itu minimal harus
mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Kegiatan komunikasi
bukan hanya informatif, melainkan
juga persuasif, yaitu agar orang lain
bersedia menerima suatu paham atau keyakinan; melakukan sesuatu perbuatan atau
kegiatan, dan lain-lain ( Effendy, 1984: 12 )
Komunikasi adalah proses mengubah perilaku
orang lain ( communication is the proses
to modify the behavior of other individuals ), kata pakar sosiologi dan
komunikasi dari Amerika Serikat, Carl I. Hovland. Perubahan perilaku pada orang
lain itu ( penerima pesan ) tidak akan terjadi selama komunikator ( penyampai
pesan ) dan komunikan ( penerima pesan ) tidak mencapai kesamaan makna mengenai
apa yang dibicarakan, pesannya tidak informatif,
cara penyampaian pesannya tidak komunikatif,
dan teknik yang digunakan dalam komunikasinya tidak persuasif.
Jadi logikanya, orang harus berubah dulu
pandangan atau pendapatnya ( opinion
change ), kemudian berubah sikap atau keyakinannya ( attitude change ), dan akhirnya berubah perilaku atau tindakan
perbuatannya ( behavior change ).
Ditegaskan oleh Joseph A. Devito dalam Communicology
: An Introduction to the Study of Communication ( 1978 ), kegiatan
komunikasi melibatkan banyak komponen, yaitu: konteks, sumber, penerima, pesan,
saluran, gangguan, proses penyampaian ( encoding ), proses penerimaan (
decoding ), arus balik ( umpan balik ), dan efek ( Effendy, 1984: 7 ).
Andrew F. Sakula, dalam Personel Administration and Human Resources
Management menyatakan, komunikasi adalah prose penyampaian informasi,
maksud, dan pengertian dari seseorang, suatu tempat, atau suatu benda kepada
orang, tempat, atau benda lain ( communication
is the process of transmitting information, meaning, and understansing from one
person, place, or thing to another person, place, or thing ) ( 1985: 356 ).
DEFINISI KOMUNIKASI
Dale Yopder dkk dalam Handbook of Personal Management and Labor Relations, komunikasi
adalah suatu pertukaran informasi, ide-ide, sikap, pikiran, dan atau pendapat (
communication is the interchange of
information, ideal, attitudes, thought, and or opinions ( 1958: 131 ). Kita
menemukan beberapa rujukan dalam menelaah persoalan komunikasi. Komunikasi
adalah suatu proses, berisi tentang penyampaian atau pertukaran ide, gagasan,
atau informasi, dari seseorang kepada orang lain, dan menggunakan symbol yang
dipahami maknanya oleh komunikator dan komunikan. Jika dianalisis, pesan komunikasi
terdiri atas dua aspek, pertama isi pesan ( the
content of the message ), dan kedua adalah lambang ( symbol ). Konkretnya, isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan,
dan lambang adalah bahasa ( Effendy, 2003: 28 ).
PROSES
KOMUNIKASI
Menurut perspektif mekanistis, komunikasi
dibedakan dalam empat kategori, yakni:
Proses Komunikasi Primer
Proses komunikasi primer ( primary process ) adalah proses
penyempaian pikiran dan perasaan oleh komunikator kepada komunikan dengan
menggunakan suatu lambang ( symbol )
sebagai media atau saluran. Lambang ini umumnya bahasa, tetapi dalam
situasi-situasi tertentu lambang-lambang yang digunakan dapat berupa kial ( gesture ), yakni gerak anggota tubuh,
gambar, warna. Komunikasi primer dilakukan secara langsung, tanpa menggunakan
alat bantu selain bahasa, dan umumnya bersifat tatap muka ( face to face communication ).
Proses Komunikasi Sekunder
Pakar komunikasi mengungkapkan, proses
komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan olehkomunikator
kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua
setelah memakai lambang sebagai media pertama. Ini berarti, komunikasi sekunder
lebih banyak mengandalkan peralatan ternis daripada pendekatan psikologis.
Menurut para pakar komunikasi, komunikasi bukan sekadar isi pesan ( content ), malainkan bagaimana cara
menyampaikan pesan itu ( how to
communicate ).
Proses Komunikasi Linear
Linear berarti lurus, satu arah, hanya
bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Komunikasi linear mengasumsikan beberapa
hal. Pertama, komunikasi adalah pihak yang memiliki dan bahkan menguasai banyak
informasi penting. Komunikator bersifat aktif. Ia produsen sekaligus pengendali
informasi ( powerful ). Kedua,
komunikan adalah pihak yang tidak memiliki dan apalagi menguasai informasi ( powerless ). Ia hanya pihak penerima.
Sebagai komunikan, ia bersifat pasif. Ketiga, karena mengikuti logika mekanik,
dalam komunikasi linear, respons atau umpan balik ( feedback ) dari komunikan dinegasikan, artinya dianggap tidak ada.
Proses Komunikasi Sirkular
Kebalikan dari komunikasi linear adalah
komunikasi sirkular. Sirkular berarti bulat, bundar, lingkaran. Jika dalam
komunikasi linear pesan diasumsikan mengalir dari satu titik ke titik tertentu
secara lurus tanpa pergantian peran komunikator dan komunikan pada saat
bersamaan, dalam komunikasi sirkular justru kebalikannya.
Umpan Balik Positif ( Positive Feedback )
Umpan balik positif adalah tanggapan atau
respons yang sesuai dengan kehendak dan harapan komunikator. Kehendak atau
harapan itu bisa dalam bentuk persetujuan, pemihakan, atau dukungan komunikan
terhadap pandangan, gagasan, atau pernyataan yang dikemukakan oleh pihak
komunikator.
Umpan Balik Negatif ( Negative Feedback )
Artinya, tanggapan yang dilontarkan oleh
pihak komunikan tidak sesuai dengan keinginan dan harapan komunikator.
Umpan Balik Netral ( Neutral Feedback )
Artinya tidak mendukung, tetapi juga tidak
menolak gagasan yang dikemukakan oleh komunikator.
Umpan Balik Nihil ( Zero Feedback )
Umpan balik nihil, manunjuk kepada
tanggapan yang tidak memberikan keuntungan apa pun kepada komunikator.
Umpan Balik Seketika ( Direct Feedback )
Artinya komunikan memberikan tanggapan
pada saat itu juga, tidak ditunda-tunda atau tertunda. Sebagai contoh, ketika
seorang dosen menerangkan materi kuliah yang diampunya di depan kelas, lalu
mahasiswa mengacungkan tangan dan mengajukan pertanyaan mengenai sesuatu yang
kurang dia pahami, itulah yang dimaksud dengan umpan balik seketika.
Umpan Balik Tertunda ( Indirect Feedback )
Umpan balik tertunda atau indirect feedback atau delayed feedback adalah tanggapan
komunikan kepada komunikator yang bersifat tidak langsung disampaikan saat itu.
Contoh, ketika seorang mahasiswa yang sedang malanjutkan studi di Amerika
Serikat berkirim surat kepada orang tuanya di sebuah kampong lereng gunung di
Sumedang, Jawa Barat, setidaknya ia memerlukan waktu 14 hari untuk memperoleh
surat balasan.
Pengertian Komunikasi Massa
Media massa menunjuk kepada bentuk saluran
penyampai pesan ( media channel ).
Sedangkan komunikasi massa menunjuk kepada proses kegiatannya ( media activity ). Sebagai contoh, surat
kabar, tabloid, majalah; radio, televise, film, media on line internet, itulah yang dimaksud dengan media massa, atau
lengkapnya media komunikasi massa. Ia terlihat kasat mata menurut bentuk,
ukuran, dan volumenya. Sedangkan bagaimana pesan-pesan melalui surat kabar,
radio, atau televise dipersiapkan, diolah, dan dipublikasikankepada khalayak
seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya, maka itulah yang dimaksud denga proses
komunikasi massa.
Definisi Komunikasi Massa
Bittner ( 1980: 10 ): Komunikasi massa
adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar
orang. Gerbner ( 1987 ) menulis : komunikasi massa adalah produksi dan distribusi
yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta
paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industry. Maletzke ( 1963 )
mengungkapkan, komunikasi massa kita artikan setiap bentuk komunikasi yang
menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara
tidak langsung dan satu arah pada public yang tersebar ( Rakhmat, 1998: 188).
Karakteristik Komunikasi
Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi media
massa, yaitu surat kabar, tabloid, majalah, radio, televise, film, dan media on line internet. Menurut
Elizabeth-Noelle Neuman ( 1973-92 ), komunikasi massa memiliki 4 ciri pokok:
(1) bersifat tidak langsung, artinya harus melewati media teknis; (2) bersifat
satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi (para
komunikan); (3) bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada public yang tidak
terbatas anonym; dan (4) mempunyai public yang secara geografis tersebar (
Rakhmat, 1998: 189 ).
Wright
menyebutkan, karakteristik utama komunikasi massa yaitu: (1) ditujukan kea rah
khalayak yang lebih luas, heterogen, dan anonym; (2) pesan-pesannya disampaikan
secara umum; (3) sering sekali dapat menjangkau khalayak secera serempak dan
bersifat selintas; dan (4) komunikator cenderung berada atau bergerak dalam
organisasi yang kompleks yang melibatkan biaya besar ( Wright, 1985: 6-7 ).
Komunikator
Melembaga
Ia merupakan kumpulan individu dari
berbagai keahlian dalam ranah sejenis yang tergabung dalam sebuah lembaga yang
terorganisasi dengan rapi, baik, dan professional.
Komunikator
Satu Arah
Karakteristik
komunikasi massa tetap belum berubah. Pesan komunikasi massa bersifat satu
arah. Tidak terjadi umpan balik langsung. Tidak terdapat proses dialogis. Kita
sebagai pemirsa televise misalnya, tetap saja hanya sebagai penerima. Posisi
kita pasif. Ketika di layar kaca disajikan tayangan infotainment dengan banyak kisah perselingkuhan, perceraian, dan
hujan caci maki dari pihak-pihak yang sedang bertikai di kalangan selebritas
kelas karbitan, kita tidak bisa melayangkan protes seketika kepada pembawa
acara untuk mengalihkan pembicaraan ke topic lain yang bersifat mendidik.
Pesan
Umum Diterima Serempak
Menurut teori komunikasi, khalayak
umum merujuk kepada 3 dimensi: geografis, monografis, dan psikografis.
Geografis berkaitan dengan kondisi letak geografi suatu daerah; ada bukit dan
lembah, ada pantai dan rawa-rawa; ada sungai yang berkelok- kelok, ada jalan
tol yang lurus-lurus memanjang.
Monografis menunjuk pada data
administrasi kependudukan, seperti jenis kelamin, kelompok usia, suku bangsa,
agama tingkat pendidikan, status perkawinan, tempat tinggal, pekerjaan atau
profesi, peroleh pendapatan.
Sedangkan psikografis, menunjuk pada
karakter, sifat kepribadian, kebiasaan, adat istiadat. Ciri utama bahasa
jurnalistik di antaranya sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih,
menarik, demokratis, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari
pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah serta
etika bahasa baku ( Sumadiria, 2005: 54-59 ).
Khalayak
Tersebar, Anonim, Heterogen
Artinya
dalam kelompok-kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain
tetapi terhubungkan oleh tayangan acara-acara televise, ditemukan banyak unsur
kemajemukan, dari soal jenis kelamin sampai dengan ke persoalan tingkat
pendidikan, ras, warna kulit, dan bahkan keterikatan social budaya serta
keyakinan beragama.
Selintas
Selintas berarti sesaat, sambil
lalu, sambil lewat, sekilas, sepintas, hanya sekelebat. Sebagai contoh, siaran
berita radio, bersifat selintas. Dalam bahasa popuer, hanya numpang lewat.
Begitu saat itu singgah di telinga,bahkan belum dapat dicerna dengan baik
maknanya, pesan berita radio sudah hilang lenyap tak berbekas. Selintas
mengandung arti juga tak bisa diulang atau diulang-ulang. Kalau sudah lewat
dari pendengaran kita, maka berita radio tidak akan pernah bisa dibaca ulang.
BAB
II
PENGERTIAN
DAN RUANG LINGKUP SOSIOLOGI KOMUNIKASI MASSA
PENDAHULUAN
Asumsinya sangat sederhana. Media
komunikasi massa tidak hidup di ruang hampa. Media komunikasi massa justru
hidup di ruang nyata tempat kita hidup, bernafas, beranak-pinak, mempertahankan
dan mengembangkan peradaban. Pakar jurnalistik sepakat untuk mengeluarkan fatwa
akademik: pers adalah cermin masyarakat. Ini berarti wajah pers adalah wajah
masyarakat; sebaliknya wajah masyarakat adalah wajah pers. Ketika pers lebih
banyak dipenuhi dengan berita kejahatan seperti korupsi, pembunuhan, penipuan,
penculikan, serta sosiologis itulah realitas factual yang terdapat pada masyarakat
bangsanya. Dalam bahasa kriminologi, masyarakat seperti itu disebut masyarakat
yang sedang sakit.
Kata Tarde, terdapat dua jenis
factor penggerak perubahan social.
Pertama,
kompleksitas yang menyangkut gagasan, keyakinan iman, dan gambaran angan-angan
yang menurut kemampuannya masing-masing memberi bentuk dan arah.
Kedua, kompleksitas kebutuhan, nafsu, dan berbagai hasrat serta arah mewakili
tenaga dinamis. Factor yang pertama didorong oleh cita-cita pribadi dan system
nilai social. Sedangkan factor yang kedua didorong oleh tenaga fisik-psikis (
Daldjoeni, 1981: 194 ). Media, tak terelakkan lagi merepresentasikan semua apa
yang dipaparkan Tarde tersebut.
PENGERTIAN
SOSIOLOGI
Secara etimologis, sosiologi berasal
dari kata socius yang berarti
masyarakat, dan logos yang berarti
ilmu. Jadi secara sederhana sosiologi diartikan sebagai ilmu yang secara khusus
mempelajari kehidupan masyarakat. Sebagai cabang ilmu social yang berusia masih
muda, sosiologi tak ubahnya gadis muda cantik yang sedang mekar. Begitu banyak
ilmuwan yang tertarik dan serta-merta meliriknya. Sebagai bukti, dalam catatan
Furfey tidak kurang dari 80 definisi yang mencoba merumuskan apa itu sosiologi
dilihat dari objek materialnya.
Dari 80 definisi itu, Furfey kemudian
membaginya ke dalam enam kategori: (1) 23 definisi menunjukkan bahwa objek
sosiologi adalah masyarakat, kelompok social, dan kesatuan-kesatuan organisasi;
(2) 17 definisi menyebutkan sosiologi adalah ilmu yang membahas kehidupan
kelompok, interaksi anggota kelompok, perilaku manusia, dan situasi kelompok;
(3) 3 definisi memuat masalah hubungan social atau bentuk-bentuk kerja sama
antarmanusia (asosiasi); (4) 11 definisi meliputi gejala social sebagai
sosiologi; (5) 4 definisi bertitik tolak pada gejala-gejala social; dan (6) 22
memuat definisi yang begitu kabur sifatnya.
Dari 80 definisi tersebut dapat
disimpulkan 3 hal: (1) sosiologi adalah ilmu yang membicarakan sifat social
manusia dengan tindakan sosialnya, dengan interrelasi antara manusia dan kehidupan
kelompok; (2) sosiologi adalah ilmu yang mengikuti secara kritis perkembangan
masyarakat atau meletakkan dasar ilmiah dalam memimpin perkembangan tersebut ke
arah yang diinginkan oleh manusia; (3) sosiologi adalah ilmu yang mendambakan
pengetahuan mengenai berbagai struktur dan system yang dapat dibuktikan (
Daldjoeni, 1981: 158-159 ). Objek sosiologi adalah masyarakat dilihat dari
sudut pandang hubungan antarmanusia dan proses yang timbul di dalamnya. Dalam
rumusan Ralph Linton, masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah
hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka
dan mengganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan social dengan batas-batas
yang dirumuskan dengan jelas ( Soekanto, 1991: 25-26 ).
PENGERTIAN
SOSIOLOGI KOMUNIKASI MASSA
Dalam pandangan pakar sosiologi
Soerjono Soekanto, sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam
mempelajari interaksi social yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang
menimbulkan proses saling pengaruh-memengaruhi antara para individu, individu
dengan kelompok maupun antarkelompok ( Soekanto, 1992: 471 ). Orang awam
bertanya dapatkah media massa meningkatkan taraf kejahatan dan kekerasan,
meruntuhkan tatanan moral, memorakporandakan budaya tradisional, atau mengantarkan
masyarakat pada kondisi adil dan makmur. Ilmuwan bertanya sejauh mana proses
dan dinamika social dipengaruhi mekanisme kerja media massa ( Rakhmat, 1985:
xii-xiii ). Efek media memiliki ruang bahasan yang luas terhadap konsekuensinya
pada proses-proses social itu sendiri, baik menyangkut individu, kelompok,
masyarakat, maupun dunia, termasuk pula aspek-aspek yang merusak, seperti
kekerasan, pelecehan, penghinaan, bahkan sampai pada masalah-masalah criminal.
Pengaruh-pengaruh efek media juga ikut membentuk life style dan lahirnya norma social baru dalam masyarakat terutama
pada masyarakat cosmopolitan, sekuler, cerdas, professional, materialistis dan
hedonis, serta modis ( Bungin, 2006: 39-40 ). Misalnya, kita bisa memperkarakan
banyak tayangan film dan sinetron bertema seks, kekerasan, dan dunia mistik
yang diyakini tidak mencerahkan tetapi justru menyesatkan masyarakat.
BAB
III
ANALISIS
FUNGSIONAL DAN DISFUNGSIONAL SERTA MODEL-MODEL KOMUNIKASI MASSA
PENDAHULUAN
Media sudah menjadi bagian kehidupan
sehari-hari orang Amerika, sehingga mereka sulit membayangkan hidup tanpa
media, surat kabar pagi, majalah Time
yang mengungkap gossip baru presiden; Reader’s
Digest dan karakter-karakternya yang tak terlupakan, komik, bacaan
filsafat, atau tanpa televise dengan para bintang film yang memukau. Banyak
orang yang tidak menyadari bahwa media memengaruhi pandangan dan tindakan
mereka.
Media massa, seperti halnya pesan
lisan dan isyarat, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi
manusia. Tidak bisa dipisahkan, tetapi hanya bisa dibedakan di antara keduanya.
Lantas, bagaimana dengan kita di Indonesia?
Data statistic resmi menunjukkan, 56
persen penduduk Indonesia belum dapat menikmati jaringan penerangan da tenaga listrik. Akibatnya, mayoritas penduduk
pedesaan kita memang belum tersentuh media, khususnya media televisi. Dalam
kondisi seperti ini, masih relevan dan beralasankah bila kita mencemaskan
dampak negatif televisi? Pada bab ini, kita akan mengenali dan memahami lebih
dalam tentang analisis fungsional media komunikasi massa, analisis
disfungsional media komunikasi massa, proses dan model komunikasi massa, media
massa sebagai sarana interaksi sosial, serta
keterkaitan media massa dengan masyarakat.
ANALISIS
FUNGSIONAL DAN FUNGSIONAL KOMUNIKASI MASSA
Menurut Denis McQuail terdapat lima
fungsi media komunikasi massa yakni informasi, korelasi, sosialisasi
(kesinambungan), rekreasi (hiburan), dan mobilisasi. Sedangkan menurut penulis
buku yang lain, fungsi media komunikasi massa meliputi: informasi, edukasi,
koreksi, dan mediasi.
PENGAWASAN
OLEH MEDIA MASSA
Pengawasan secara sederhana berarti
penanganan berita yang dilakukan media massa. Dalam sejumlah kasus tertentu,
media bahkan telah menampilkan dirinya sebagai pahlawan yang layak
dielu-elukan. Ia seolah tak tercelakan. Konsekuensinya, media perlu senantiasa
diberi tempat yang layak pula dalam ruang-ruang social masyarakat. Ia bukan
musuh bersama (common enemy). Ia
justru merupakan sahabat bersama (common
friend) yang pantas untuk didekati dan dijadikan mitra sejati. Jadi, keliru
besar kalau ada anggapan yang menyatakan media adalah perusak moral dan
penghancur tata nilai dan tertib social (social
disorder).
Merton dengan serta-merta
mengingatkan, jangan cepat puas diri apalagi sampai terlena dan lupa diri.
Pengawasan media massa, kata Merton, bisa juga melahirkan efek disfungsional.
Artinya jelas-jelas mengancam, membahayakan, dan mencelakakan masyarakat.
Paling tidak secara psikologis, masyarakat akan berubah menajadi penakut,
peragu, dan senantiasa merasa khawatir dalam melihat lingkungan sekitar. Kita
seperti pemain sepak bola yang tiba-tiba merasa alergi melihat, menyentuh, dan
menendang bola walaupun sudah berada di depan gawang musuh.
KORELASI
Korelasi berarti bagaimana media
massa membaca dan sekaligus memberikan tafsiran atau interprestasi terhadap
berbagai informasi lingkungan social dan fisik di sekitarnya. Tugas media,
melalui fungsi korelasi, ialah membaca, mengomentari, dan menafsirkan berbagai
serpihan informasi dan peristiwa tersebut sehingga benar-benar terpolakan,
korelasi akan disebut fungsional, sejauh redaksi mampu memberikan tafsir
jurnalistik sehingga khalayak pembaca, pendengar atau pemirsa yang semula ragu
berubah menjadi yakin, semula pesimis menjadi optimis, dan semula samar-samar
berubah menjadi terang-benderang.
TRANSMISI
BUDAYA
Dalam bahasa Charles Wrigt, transmisi warisan social (social heritage) berfokus pada
komunikasi pengetahuan, nilai-nilan, dan norma-norma social dari satu generasi
ke generasi lain, atau dari anggota-anggota suatu kelompok kepada para
pendatang baru. Pada umunya, aktivitas ini diidentifikasikan sebagai aktifitas
pendidikan (Wright, 1985: 8). Seperti guru di ruang-ruang kelas, media massa
mengajarkan pengetahuan, memperkenalkan nilai-nilai dan norma-norma social,
serta memberikan contoh-contoh keteladanan. Inilah efek fungsional (manifest functions) media massa dalam
lingkup transmisi budaya.
HIBURAN
Fungsi media massa televisi, memang
memberikan hiburan sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya kepada masyarakat
pemirsa. Hasil survei penulis menunjukkan, sekitnya 70 persen jam siaran
televisi swasta di Indonesia diisi dengan berbagai tayangan program hiburan,
terlepas dari apakah tayangan hiburan itu bermutu atau tidak. Fenomena ini
menunjukkan, posisi dan eksistensi media massa televisi dalam pemenuhan
kebutuhan hiburan masyarakat, benar-benar sangat dominan. Bahkan tak tergatikan
oleh media massa yang lain. Efek fungsional yang terjadi ialah, masyarakat pemirsa
terpuaskan kebutuhan hasrat hiburannya. Tetapi juga fakta menunjukkan, tak
hanya efek fungsional yang muncul dari tayangan program hiburan televisi.
Televisi siaran juga ternyata banyak melahirkan efek disfungsional. Orang yang
semula menginginkan hiburan dari
televisi, malah justru mendapatkan kekecewaan. KPI dan KPID pun diminta
bertindak tegas dalam memberikan peringatan dan hukuman kepada stasiun televisi
yang terbukti menampilkan tayangan-tayangan program hiburan yang dianggap
meresahkan menyesatkan.
PENGANUGERAHAN
STATUS
Menurut Lazarsfeld dan Merton,
tampaknya orang beranggapan: “ Jika Anda orang penting, Anda akan di perhatikan media massa. Jika Anda
diperhatikan media massa, pasti Anda orang penting. Pemberian status ini tidak
hanya berlaku pada orang, tetapi juga pada kelompok , lembaga, organisasi,
tempat, dan juga topik atau isu (Rakhmat, 1998:225)
Pemberian Status akan
fungsional selama status atau julukan baru itu memberikan citra dan dampak
positif kepada seseorang atau organisasi, lembaga, dan tempat yang dilaporkan
oleh media.
Sayangnya, penganugerahan
status media pun sering ditolak mentah-mentah oleh orang, pihak, organisasi,
lembaga, dan tempat yang menerimanya. Apalagi kalau bukan dianggap berkonotasi
negatif, buruk, melecehkan, mengandung unsur penghinaan, bahkan termasuk dalam
kategori pembunuhan karakter seseorang, yang dimaksud dengan fungsi tersembunyi
(latent funcions) media massa dalam
pemberian gelar, julukan, atau status baru kepada seseorang, suatu organisasi
atau lembaga dan tempat.
Pengakhlakan
Komunikasi massa mempunyai fungsi mengakhlakkan
(ethicizing) kalau komunikasi itu memeperkuat kontrol sosial atas
anggota-anggota masyarakat yang membawa penyimpangan prilaku ke dalam pandangan
masyarakat. Surat kabar, misalnya, memublikasikan informasi mengenai
pelanggaran norma-norma. Fakta-fakta seperti itu sudah seharusnya diketahui oleh
anggota masyarakat. Tetapi keterbukaan melalui komunikasi masa menciptakan
kondisi sosial ketika orang banyak harus menolak pelanggaran itu dan mendukung
standar moralitas yang sudah umum dan bukannya yang bersifat pribadi. Dengan
proses ini, berita-berita yang berkomunikasi kepada massa memperkuat kontrol
sosial dalam masyarakat perkotaan, ketika anonimitas di kota telah memperlemah
komunikasi tatap muka yang sifatnya informal dan kontrol terhadap penyimpangan
prilaku (Wright, 1985:17).
MODEL-MODEL KOMUNIKASI MASSA:
PERSPEKTIF SOSIOLOGI
Dipaparkan secara ringkas
empat model komunikasi massa yang memiliki roh dan bobot sosiologis sangan
kuat. Keempat model itu meliputi :
Model Jarum Hipodermik
Model jarum hipodermik
pada hakikatnya adalah model komunikasi satu arah, berdasarkan anggapan bahwa
media massa memiliki pengaruh langsung, segera, dan sangat menentukan terhadap
khalayak komunikan (audience).
Model Komunikasi Satu Tahap
Model komunikasi satu
tahap (one step flow communication model)
menyatakan bahwa media massa sebagai saluran komunikasi langsung berpengaruh
pada khalayak komunikan, tanpa membutuhkan peranan para pembuka pendapat
sebagai penyebar informasi.
Model Komunikasi Dua Tahap
Model komunikasi dua
tahap (two step flow communication model)
ini membantu kita dalam menempatkan perhatian pada peranan media massa yang
dihubungkan dengan komunikasi antarpribadi. Tahap
pertama, dari sumber informasi ke pemuka pendapat, pada umumnya merupakan
pengalihan informasi. Sedangkan tahap
kedua, dari pemuka pendapat pada pengikutnya merupakan penyebarluaskan
pengaruh (Depari dan Andrews, 1985:18).
Model
Komunikasi Banyak Tahap
Memperoleh informasi
setelah melalui pelbagai tahap yang harus dilalui setelah disebarkan oleh sumber
informasi. Banyaknya tahap yang harus dilalui dalam proses penerimaan informasi
bergantung pada : (1) tujuan sumber informasi; (2) banyaknya media massa yang
menyebarluaskan informasi; (3) isi pesan yang disampaikan, apakah berkenan bagi
khalayak atau melibatkan kepentingan khalayak; dan (4) apakah cara
penyampaiannya menarik perhatian khalayak Depari dan Andrews, 1985: 20-21).
KOMUNIKASI MASSA, MASYARAKAT, DAN BUDAYA
Menurut
Melvin Defleur dalam karyanya yang monumental, Theories of Mass
Communication (1996), terdapat
tempat teori untuk menjelaskan pola interaksi media
komunikasi massa dengan masyarakat dan budaya. Keempat
teori itu meliputi: teori
perbedaan individu (the
individual differences theory), teori penggolongan sosial (the
social category theory), teori hubungan
sosial (the social relationship), dan
teori norma
norma budaya (the
cultural norms theory).
Teori Perbedaan Individu
Para ahli komunikasi,
menyambut baik hasi-hasil penelitian para ahli psikologi itu. Konsekuensinya,
berbagai asumsi dasar yang melekat dalam kajian-kajian serta teori komunikasi
massa selama ini, sedikitnya banyak harus diubah dan disesuaikan, misalnya tentang
pengaruh media massa. Seperti dicatat Depari dan Andrew, teori psikologi umum
telah merumuskan konsep persepsi selektif yang didasarkan pada perbedaan
kepribadian individu. Setiap orang akan menanggapi isi media massa berdasarkan
kepentingan mereka, disesuaikan dengan kepercayaannya serta nilai-nilai sosial
mereka. Atas dasar pengakuan bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya,
kepentingannya dan nilai-nilannya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka
terhadap komunikasi massa juga berbeda. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pengaruh media terhadap individu akan berbeda satu sama lain disebabkan adanya
perbedaan psikologi antarindividu (Depari dan Andrews, 1985:5).
Sebagai konsekuensi dari teori
penggolongan social, kini sangat banyak program acara media massa yang
dimaksudkan untuk memenuhi minat, kebutuhan, dan kepentingan kelompok atau
golongan tertentu dalam masyarakat. Namanya segmentasi tayangan acara. Sebagai
contoh, tayangan acara lagu-lagu zaman dulu dengan segmentasi pemirsa televisi
kelompok usia 40-60, ditayangkan pada malam hari selepas pukul 20.30. Sementara
program acara khusus untuk ibu-ibu dan keluarga, ditayangkan pada pagi atau
siang hari mulai pukul 06.30. Akan halnya tayangan acara khusus anak-anak,
biasanya ditayangkan pada sore hari mulai pukul 15.00. Cara-cara demikian,
merupakan upaya pengelola media massa untuk semakin mendekatkan diri sekaligus
membangun hubungan social (social
relationship) dengan khalayaknya.
TEORI
HUBUNGAN SOSIAL
Teori ini menyatakan bahwa dalam menerima
pesan yang disampaikan oleh media, orang lebih banyak memperoleh pesan itu
melalui hubungan atau kontak dengan orang lain daripada menerima langsung dari
media massa. Teori hubungan social mencoba menekankan pentingnya variable
hubungan antarpribadi sebagai sumber informasi dan sebagai penguat pengaruh
media komunikasi (Depari dan Andrews, 1985: 6-7).
Orang-orang ini dalam teori
komunikasi disebut sebagai kelompok penerima cukup-informasi (well informed). Berbagai informasi yang
diterima dari media lalu dirumuskan sesuai dengan tingkat predisposisinya.
Informasi yang sudah diolah ini, barulah kemudian disebarluaskan melalui
saluran dari mulut ke mulut (mouth to
mouth communicarion) secara informal.
TEORI
NORMA-NORMA BUDAYA
Perilaku individu umumnya didasarkan
pada norma-norma budaya yang disesuaikan dengan situasi yang dihadapinya. Dalam
kerangka ini media akan bekerja secara tidak langsung untuk memengaruhi sikap
individu tersebut. Paling sedikit terdapat tiga cara yang ditempuh oleh media
massa untuk memengaruhi norma-norma budaya:
1. Pesan-pesan
komunikasi massa dapat memperoleh pola-pola budaya yang berlaku serta
membimbing masyarakat agar yakin bahwa pola-pola tersebut masih tetap berlaku
dan dipatuhi masyarakat.
2. Media
massa dapat menciptakan pola-pola budaya baru yang tidak bertentangan dengan
pola budaya yang ada, bahkan menyempurnakannya.
3. Media
massa dapat mengubah norma-norma budaya yang berlaku sehingga prilaku
individu-individu yang ada dalam masyarakat dengan sendirinya ikut berubah
serta menyesuaikan diri dengan norma-norma budaya yang baru (Depari dan
Andrews, 1985: 7).
KOMUNIKASI MASSA DAN PERUBAHAN SOSIAL
Dalam buku Character and Social Strukture, Gerth
dan Mills mencoba membuat model yang
mencangkup enam pertanyaan atau masalah pokok yang menyangkut perubahan social:
1.
Apakah yang berubah?
2.
Bagaimanakah hal itu berubah?
3.
Ke manakah tujuan dari perubahan
itu?
4.
Bagaimanakah kecepatan perubahan
itu?
5.
Mengapa terjadi perubahan?
6.
Faktor-faktor penting manakah yang
ada dalam perubahan? (Bottomore 1972: 297 dalam soekanto, 1983: 23).
Gillin
dan Gillin menyatakan, perubahan social diartikan sebagai suatu variasi dari
cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis,
kebudayaan material, komposisi penduduk dan ideology, maupun karena adanya
difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Samuel Koening dalam Man and Society (1957) mengatakan,
secara singkat perubahan social menunjuk pada modifikasi yang terjadi dalam
pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi itu terjadi karena sebab-sebab intern
dan sebab-sebab ekstern. Definisi lain adalah dari pakar sosiologi terkemuka
Indonesia, Selo Soemardjan. Selo mendefinisikan perubahan social sebagai segala
perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang
memengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola
perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat (Soekanto, 1991: 337).
Menurut
Schramm, terdapat Sembilan peran yang dapat dikerjakan media massa dalam
membantu perubahan social, yakni:
-
Media Massa Dapat Memperluas
Cakrawala Pemikiran
Kata
Marshall McLuhan, media itu sendiri adalah pesan (medium is message). Dalam buku karyanya Understanding Media: The Extensions of Man (1964) ia mengatakan,
media adalah kepanjangan manusia (media
is the extended of man). Jadi, jangankan pesannya, medianya sendiri sudah
merupakan pesan. Seperti dikutip pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat, McLuhan
menulis: “Secara operasional dan praktis, medium adalah pesan. Ini berarti
bahwa akibat-akibat personal dan social dari media, yakni karena perpanjangan
diri kita, timbul karena skala baru yang dimasukkan pada kehidupan kita oleh
perluasan diri kita atau oleh teknologi baru. Media adalah pesan karena media
membentuk dan mengendalikan skala serta bentuk hubungan dan tindakan manusia
(McLuhan, 1964: 23-34 dalam Rakhmat, 1998: 220).
Media
bisa menjangkau tempat-tempat dan orang-orang yang tidak bisa kita datangi
secara langsung, dalam waktu singkat dan bersamaan, dan bahkan saat itu juga (real time). Dengan hanya duduk santai di
sofa, melalui layar kaca televisi misalnya, kita dapat menjelajah ke berbagai
tempat di dunia yang belum pernah kita kunjungi hanya dalam hitungan detik dan
menit. Benar kata sebagian orang, termasuk orang Amerika, televisi adalah kotak
kecil ajaib yang bisa menyulap dan menghinoptis khalayak. Dari sinilah,
cakrawala pengetahuan dan pemikiran kita, terbentuk, terasah dan termotivasi.
Lewat media, day imajinasi, fantasi, dan inspirasi kita benar-benar
diekploitasi habis-habisan. Secara sosiologis, kontak social dan komunikasi
menjadi tak terbatas melampaui dimensi ruang dan waktu.
-
Media Massa Dapat Memusatkan
Perhatian
Media
dapat melakukan banyak hal, tetapi yang paling utama ialah memusatkan perhatian
khalayak dan semua pihak termasuk para birokrat untuk tidak lengah, untuk
waspada, siaga, dan bisa berbuat optimal dalam penanggulangan bencana. Tsunami
tidak bisa distop, tetapi jumlah korban bisa diminimalisasi. Banjir tidak bisa
dikeringkan saat itu, tetapi para korban yang terjebak di rumah-rumah bisa
segera diungsikan ke tempat-tempat aman. Makanan, selimut, obat-obatan, harus
segera didistribusikan. Untuk semua itu diperlukan tenaga-tenaga serta
menejemen bencana yang sangat professional. Apa yang disebut system peringatan
dini (early warning system), mutlak
diprogramkan, didiklatkan, dan terus-menerus disosialisasikan.
-
Media Massa Mampu Menumbuhkan
Aspirasi
Dengan media
massa, orang-orang desa bisa berpikir jauh ke depan. Mereka bicara tentang diri
mereka, masa depan mereka, bahkan memikirkan juga masa depan
saudara-saudaranya, para tetangganya, nasib orang-orang di desa-desa lain di
kota mereka. Luar biasa, aspirasi yang tumbuh dari mereka ternyata begitu
beragam dan menjanjikan. Lermer menguingitkan, ledakan harapan dan aspirasi
ini, ajan menjadi juskanbom waktu bagi kalangan teknokrat dan birokrat jika
mereka gagal mewujudkan dalam tempo tak terlalu lama. Begitulah, media massa
ternyata bisa memainkan peran dirinya sebagai sarana pencari sekaligus penumbuh
aspirasi-aspirasi khalayak yang bersifat majemuk.
-
Media Massa Mampu Menciptakan
Suasana Membangun
Perlu
dicatat, nilai dan norma-norma social tidaklah bersifat kaku dan statis tetapi
justru bersifat lentur dan dinamis. Sebagai contoh, dulu tak banyak orang yang
bercita-cita menjadi pemusik, main band dari panggung ke panggung. Sekarang?
Rasanya setiap orang berobsesi ingin menjadi artis dan pemusik. Ternyata, jadi
artis dan pemusik bisa meraup kekayaan dalam tempo singkat. Ternyata jadi
penghibur bisa menjamin masa depan. Maka kini setiap jam televisi menayangkan
acara pentas music, pentas band anak-anak muda dengan aneka ragam aliran, dari
jenis aliran, dari jenis reggae sampai pop kreatif. Secara sosiologis, media
telah berjasa menghidupkan norma-norma social beru ke tengah-tengah masyarakat.
-
Media Massa Mampu Menumbuhkan
Selera
Media,
memiliki segalanya untuk mengangkat dan membangkitkan selera pasar, selera
anak-anak muda, bahkan juga selera anak-anak zadul alias zaman dulu yang kini
sudah berusia renta. Ada saatnya memang selera yang mengisi dan memengaruhi
media. Tetapi melalui kebudayaan industry informasi dan komunikasi, medialah
yang justru yang terus mendobrak dan menggebrak khalayak.
-
Media Massa Mampu Mengubah Sikap
yang Lemah Menjadi Sikap yang Lebih Kuat
Dalam
teori jurnalitik perang (war journalism)
seperti yang terjadi di Afghanistan, Irak, dan Palestina, kematian adalah tidur
panjang, bom bunuh diri adalah jihad suci, dan desingan peluru adalah tasbih.
Tak seorang pun orang Palestina takut mati. Tak seorang pun orang Palestina
takut perang. Mereka hanya takut, Allah murka kepada mereka karena mereka tak
berbuat suatu apa terhadap kekejaman zionisme Israel. Bom dan roket boleh saja
menghancurkan Gaza, kata orang-orang Palestina. Tetapi api kemerdekaan akan
tetap menyala pada setiap dada bocah Palestina. Di situ ada kuburan warga
Palestina, di situ pula terdapat akar-akar nasionalisme. Hidup dijajah Israel,
bagi bangsa Palestina adalah moralitas paling ternistakan.
Media seperti api dalam memompa
semangat, tekad, dan jiwa perlawanan orang-orang Palestina. Terus bergelora. Terus
berkobar. Maka, dalam setiap peperangan, satu mati seratus berdiri. Tak ada
kata takut dan menyerah kecuali bagi seorang pengkhianat. Melalui media dunia
semakin tahu, ternyata Israel salah besar, mengira dengan senjata Palestina
bakal tekuk lutut. Kenyataan yang ada justru sebaliknya. Sayangnya, masalah ini
tidak disadari Amerika. Padahal teori Rambo Amerika sudah usang dan harus
dikubur dalam-dalam.
-
Media Massa Dapat Berperan Sebagai
Pendidik
Pakar
komunikasi Universitas Indonesia (UI) Sasa Djuarsa Senjaya, mencatat, dalam
suatu studi mengenai penggunaan televisi oleh anak, Brown (1976) menemukan arti
penting media tersebut yang bersifat multifungsi dan memberikan kepuasan bagi
kebanyakan anak pada umumnya, seperti mengajarkan tentang bagaimana orang lain
menjalani hidupnya, atau memberikan suatu bahan pembicaraan dengan
teman-temannya (Senjaya, 2007: 5.43). Jelaslah sudah, media, di tengah
gelombang protes dan hujatan kepadanya dari para pakar dan pengamat pendidikan
sendiri, tetap menjalankan perannya sebagai pendidik. Sudah menjadi takdir
media, kalau tidak dipuji, pasti dicaci. Bahkan dipuji dan dicaci itu, datang
secara bersamaan secara bertubu-tubi.
BAB IV
TEORI SISTEM PERS DAN
KEBUTUHAN MASYARAKAT
PENDAHULUAN
Pers dan masyarakat meupakan dua lembaga
atau institusi yang satu sama lain tidak dipisahkan. Pers sebagai subsistem
dari system social, selalu bergantung dan berkaitan erat dengan masyarakat
tempat ia berada. Kenyataan itu mempunyai arti bahwa di mana pun per situ
berada, ia membutuhkan masyarakat sebagai sasaran penyebaran informasi atau
pemberitahuannya. Menurut Leo Bogart dalam The
Mass Media in America (1966),
masyarakat menggunakan media untuk: (1) mencari inspirasi, (2) mencari hiburan,
(3) menyelami dunia pendidikan atau mendapat pelajaran, dan (4) mendapatkan
rasa partisipasi pada setiap kejadian besar pada waktu itu (Bogart, 1973: 64).
TEORI
PERS OTORITARIAN (AUTHORITARIAN PRESS
THEORY)
Menurut Fred S. Siebert, Theodore Peterson
dan Wilbur Schramm dalam buku karyanya Four
Theories of The Press (1963), teori pers otoritarian muncul pada zaman
pencerahan (Renaisans) abad 17, setelah ditemukannya mesin cetak. Dalam
masyarakat seperti itu, kebenaran dianggap bukanlah hasil dari massa rakyat, melainkan
dari sekelompok kecil orang bijak yang berkedudukan, membimbing dan mengarahkan
pengikut-pengikut mereka. Jadi kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan
pusat kekuasaan.
Hakikat manusia. Manusia adalah bagian dari masyarakat. Manusia tak dapat
berdiri sendiri. Dia harus dalam masyarakat. Manusia baru berarti kalau dia
hidup dalam kelompok. Sebagai individu, kegiatannya sangat terbatas. Sebagai
anggota masyarakat, kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan bisa
didapat dengan lebih cepat (Rachmadi, 1990: 31). Apa artinya? Di mata teori
ini, seorang individu hanya punya arti apabila dia berbaur dan bergabung
menjadi anggota masyarakat. Tanpa masyarakat, dia tak berarti apa-apa (nothing). Dalam teori otoritarian,
individu-individu memang diarahkan supaya mengabdi dan tunduk kepada Negara.
Individu harus bisa berbuat, dan banyak berbuat, untuk kepentingan serta
tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh Negara. Pengetahuan dan kebenaran dicapai
melalui interaksi individu. Interaksi itu harus terkontrol dan terarah,
sehingga kepentingan akhir tidak dirugikan (Rachmadi, 1990: 32).
TEORI PERS LIBERTARIAN (LIBERTARIAN PRESS THEORY)
Tujuan utama pers libertarian ialah
memberi informasi, menghibur, dan transaksi bisnis, untuk membantu menemukan
kebenaran serta mengawasi pemerintah yang sedang berkuasa. Siapa saja yang
memiliki kemampuan ekonomi atau modal yang cukup, dibolehkan mendirikan
penerbitan pers.
Menurut Siebert, tujuan media dalam pers
libertarian adalah untuk menolong menemukan kebenaran, membantu penyelesaian
masalah-masalah politik dan social dengan mengetengahkan semua bentuk bukti dan
opini sebagai dasar pembentukan keputusan.
Apa saja yang dilarang dalam pers
libertarian? Penghinaan, kecabulan, kerendahan moral, dan pengkhianatan pada
masa perang, merupakan sesuatu yang sangat terlarang. Etika profesi dan moralitas. Di Negara-negara penganut libertarian,
media memang memiliki kebebasan seluas-luasnya dalam mencari kebenaran dan
membantu masyarakat mencapai cita-citanya. Tetapi bukan berarti kebebasan itu
dapat digunakan secara semena-mena. Ada sejumlah rambu yang harus dipatuhi.
Jika tidak, media akan berhadapan dengan hukum. Sebagai contoh, lihatlah,
pertikaian dan kerusuhan antarsuku, jarang terjadi di Amerika Serikat, tetapi
tak terhitung banyaknya di Negara-negara kawasan Afrika.
TEORI
PERS KOMUNIS SOVIET (SOVIET COMMUNISM
PRESS THEORY)
Lenin pernah berkata, pers haruslah
menjadi suatu collective propagandist,
collective agitator, dan collective organizer, tulis Rivers dan
Schramm dalam Four Concepts of Mass Communications (1960:
42). Menjadi penggerak propaganda kolektif, dan organisator kolektif, berarti
menempatkan media hanya sebagai corong penguasam sebagai pengeras suatu Negara
(state speakers). Ini berarti bahwa
media massa harus tunduk patuh pada perintah dan control dari pemerintah atau
partai. Tunduknya media masa pada partai komunis membawa arti yang lebih dalam,
yaitu sebagai alat dari partai komunis yang berkuasa.
Media
milik Negara. Perbedaan utama teori media komunis Soviet dengan teori-teori
yang lain: media massa adalah milik Negara, dan media yang dikontrol sangat
ketat semata-mata dianggap sebagai tangan-tangan Negara. Sangat tertutup. Berbeda dengan media liberal yang sangat terbuka,
media massa system komunis justru sangat tertutup. Saking tertutupnya, rakyat
tidak tahu apa yang sedang dilakukan pemimpin partai atau penguasa.
TEORI PERS TANGGUNG JAWAB
SOSIAL (SOCIAL RESPONSIBILITY PRESS
THEORY)
Teori pers tanggung jawab social tumbuh di
Amerika Serikat pada abad 20. Teori ini berkembang setelah dipengaruhi artikel
WE Hocking, para pelaksana media, kode-kode etik media, dan Komisi Kebebasan
Pers. Terosi pers tanggung jawab social bertujuan untuk memberi informasi,
menghibur, melakukan transaksi bisnis, dan yang utama adalah untuk mengangkat
konflik sampai tingkat diskusi melalui pasar ide yang bebas dan bertanggung
jawab.
Media harus tundukpada hukum-hukum media
yang sudah dianggap baku. Sebagai pemilik fungsi control social misalnya, media
akan digugat seandainya tidak menyuarakan kebenaran, menyampaikan kritik, dan
membela kepentingan umum. Komisi Kebebasan Pers Amerika, menetapkan lima syarat
yang wajib dipatuhi oleh media. Pertama,
media dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari secara
mendalam dan cerdas dalam suatu konteks yang memberi arti kepada kejadian
tersebut.
Kedua,
media harus menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik.
Ketiga, media hendaknya menonjolkan
sebuah gambaran representatif dari kelompok-kelompok unsur pokok dalam
masyarakat.
Keempat, media hendaknya bertanggung
jawab dalam penyejian dan penguraian tujuan-tujuan dan nilai-nilai masyarakat.
Kelima, media hendaknya menyajikan
kesempatan penuh untuk memperoleh berita sehari-hari.
TEORI MEDIA PEMBANGUNAN (DEVELOPMENT MEDIA THEORY)
Peranan media
pembangunan, menurut Schramm, adalah sebagai agen perubahan (agent of change). Letak peranannya
adalah membantu mempercepat proses peralihan masyarakat tradisional ke
masyarakat modern. Media massa berperan tidak hanya dalam penyerabaran
informasi, tetapi lebih jauh dapat diarahkan untuk tujuan-tujuan penyuluhan dan
pendidikan masyarakat. Media pembangunan berperan menjadi salah satu penghubung
yang kreatif antara pemerintah dan masyarakat. Media massa menyampaikan dan
menerangkan rencana pembangunan dan kebijakan pembangunan, sehingga seluruh
masyarakat mengetahui serta memahami seluruh masalah pembangunan. Di sini,
media massa diharapkan tampil sebagai innovator dan motivator pembangunan
(Rachmadi, 1990: 87).
Lantas apa yang dimaksud dengan
pembangunan? Menurut Everett M. Rogers, pembangunan secara sederhana adalah
perubahan yang berguna menuju suatu system social dan ekonomi yang diputuskan
sebagai kehendak dari suatu bangsa (Rogers, 1985: 2).
Tidak seperti pada teori libertarian pada
teori media pembangunan, media ditekankan untuk lebih memikul tanggung jawab
social lebih besar terhadap masyarakat dan Negara. Berita, laporan, ulasan,
tulisan, dapat dengan leluasa disajikan, tetapi harus dalam kerangka memberikan
pencerahan dan percepatan ekonomi, atau sesuatu yang masuk dalam kategori “
dibutuhkan oleh pembangunan ”.
TEORI MEDIA DEMOKRATIK-PARTISIPAN
(PARTICIPANT-DEMOCRATIC MEDIA THEORY)
Istilah demokratik-partisipan, kata Quail lebih lanjut, menunjukkan sikap
kecewa terhadap partai politik dan system demokrasi parlementer yang telah
tercabut dari akar-akar budayanya yang asli. Teori ini secara tegas menolak
kapitalisme media. Media demokratik-partisipan sangat tidak menyukai apa yang
kini popular dengan istilah industry
media. Artinya, media dijadikan industry yang padat modal dan padat
teknologi dengan muatan kapitalisme yang jelas-jelas meracuni tata nilai social
budaya masyarakat wong cilik. Media
demokratik-partisipan, sesuai dengan namanya, adalah seperti apa yang bisa
dilakukan oleh orang local, orang kampong, orang miskin keahlian dan
pengalaman. Teori ini memang melihat media bukan pada bentuknya melainkan pada
substansinya: fungsinya.
KOMUNIKASI MASSA DAN
PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT
Kita bisa menganalisis peran-peran media
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu, paling tidak terdapat empat
teori yang bisa memberi penjelasan terperinci yaitu:
TEORI BELAJAR SOSIAL
Teori belajar social dikembangkan oleh
Albert Bandura. Teori ini berasumsi, media massa merupakan agen sosialisasi
yang utama selain keluarga, guru, sahabat karib, dan sekolah. Artinya, dengan
fungsi dan kemampuannya menyeleksi berita dan informasi, ulasan dan tulisan,
serta menyajikan serta memublikasikannya secara cepat, luas, dan serempak
kepada masyarakat yang heterogen serta anonym, media massa dapat berperan
sebagai guru yang baik dan prosesional. Secara kategoris, teori belajar social
terbagi ke dalam empat tahap atau langkah, yaitu proses atensi atau perhatian (attentional process), tahap proses
retensi (retention process), tahap
reproduksi motor (motor reproduction
process), dan terakhir adalah proses motivasional (motivational process).
TEORI MODEL DIFUSI INOVASI
Menurut Rogers, difusi adalah suatu proses
ketika suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu di antara para
anggota suatu system social. Inovasi adalah suatu ide, karya, atau objek yang
dianggap baru oleh seseorang (Effendy, 1993: 283-284).
Rogers menyebutkan, terdapat lima ciri
inovasi yang akan menentukan tingkat adopsi: keuntungan relatif (relative advantage), kesesuaian (compability), kerumitan (complexity), kemungkinan untuk dicoba (trial-ability), dan kemungkinan untuk diamati
(observability). Keuntungan relatif adalah suatu derajat ketika inovasi dirasakan
lebih baik daripada ide lain yang menggantikannya. Kemungkinan dicoba adalah mutu derajat ketika inovasi depat
dieksperimentasikan pada lapangan yang terbatas (Rogers, 1983: 85).
TEORI MODEL AGENDA SETTING
Apa yang dianggap penting oleh media, akan
dianggap penting pula oleh masyarakat. Agenda masyarakat dapat diteliti dari
segi apa yang dipikirkan orang (intrapersonal),
apa yang dibicarakan orang itu dengan orang lain (interpersonal), apa yang dibicarakan orang itu dengan orang lain (interpersonal), dan apa yang mereka
anggap sedang menjadi pembicaraan orang ramai (community salience)
(Rakhmat, 2000: 68). Alexis S. Tan menyimpulkan, dalam agenda setting, media memengaruhi kognisi politik khalayak melalui
dua cara. Pertama, media secara
efektif menginformasikan peristiwa politik kepada khalayak yang tersebar,
heterogen, dan anonym. Kedua, media
memengaruhi persepsi khalayak mengenai pentingnya masalah politik (Tan, 1981:
277).
Kita perlu memberi catatan di sini.
Meskipun agenda setting merumuskan apa yang dianggap penting oleh masyarakat,
dalam praktik tak serta-merta semua yang dianggap penting itu diperhatikan dan
dilaksanakan oleh masyarakat. Fakta menunjukkan, justru cukup banyak isu,
persoalan, gagasan, peristiwa atau berita yang dilewatkan begitu saja. Berlalu
seperti angin. Kalau sudah demikian, sia-sialah berbagai informasi dan berita
yang dipublikasikan karena tak mampu menggugah perhatian khalayak. Bagi para
perencana dan praktisi media, kenyataan ini tak setiap saat disadari. Media
asyik dengan agendanya sendiri. Khalayak pun tetap membisu karena tidak bisa
memberikan umpan balik secara langsung (indirect
feedback). Kalaupun umpan balik itu dilontarkan, sifatnya tertunda (delayed feedback).
TEORI MODEL KEGUNAAN DAN
KEPUASAN
Teori uses and gratifications model tidak
tertarik pada apa yang dilakukan media terhadap diri orang, tetapi ia tertarik
pada apa yang dilakukan orang terhadap media. Anggota khalayak dianggap secara
aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Dari sini timbul istilah
uses and gratifications, penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Dari sini timbul
istilah uses and gratifications, penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Dalam asumsi
ini tersirat pengertian bahwa komunikasi massa berguna (utility); bahwa konsumsi media diarahkan oelh motif (intentionality); bahwa perilaku media
mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity);
dan bahwa khalayak sebenarnya kepala batu (stubborn)
(Blumler, 1979: 265; Rakhmat, 2000: 65).
Utility.
Pada teori ini, media massa diasumsikan berguna bagi khalayak dan karena itu
media selayaknya diwariskan dari situ generasi ke generasi berikutnya dengan
tetap memperhatikan semangat zaman (zeitgeish).
Intentionality. Mengapa orang
tertarik dan berhubungan dengan media: membaca surat kabar, mendengarkan radio,
dan menonton televisi? Karena setiap orang memiliki motif. Motif adalah sesuatu
yang yang mendasari sikap dan tindakan tertentu seseorang.
Selectivity. Teori perbedaan individu
dalam komunikasi massa mengingatkan, tiap individu memiliki tingkat perhatian,
minat, kepentingan, orientasi, dan nilai-nilai yang berbeda saat bersentuhan
dengan media. Sebaliknya, dampak atau efek media berbeda terhadap imdividu yang
satu dan individu yang lain. Asumsinya, tiap individu memiliki mekanisme
pertahanan moral mental dan tingkat intelektual yang tidak sama.
Stubborn. Sering dikatakan, secara
filosofis manusia adalah makhluk berfikir yang berbudaya (homo sapiens). Manusia juga termasuk makhluk bijaksana, sebab hewan
tidaklah memiliki rasa kebijaksanaan. Karena berfikir dan bijaksana, logikanya
manusia akan dapat dengan mudah mengembangkan potensi sikap-sikap dan perilaku
baik yang ada pada dirinya.
BAB V
SOSIOLOGI KOMUNIKATOR DAN
PESAN DALAM KOMUNIKASI MASSA
PENDAHULUAN
Kita bisa saja
memulai dengan mengajukan tiga pertanyaan kunci: siapa komunikator dalam
komunikasi massa, aspek-aspek sosiologis apa saja yang memengaruhi daya-tolak
dan daya-terima komunikasinya, dan seberapa besar efek pesan yang ditimbulkan
terhadap khalayak komunikan?
APA KOMUNIKATOR DALAM
KOMUNIKASI MASSA?
Salah satu pendekatan studi sosiologis
tentang komunikasi massa adalah memecahkan konsep umum tentang komunikator ke
dalam berbagai unsur pekerjaan yang sudah terspesialisasi.
KOMUNIKATOR KOMUNIKASI MASSA
VERSI ARISTOTELES
Dari Aristoteles (384-322 SM), kita dapat
belajar banyak tentang prinsip-prinsip yang harus dikuasai oleh seorang
komunikator, termasuk dalam aktivitas komunikasi massa. Terdapat tiga syarat
penting yang harus dipenuhi oleh komunikator dalam memengaruhi khalayak: ethos, pathos, logos.
ETHOS
Pada dimensi ethos, komunikator individual dalam aktivitas social atau
komunikator institusional dalam aktivitas komunikasi massa, selayaknya
menguasai dengan baik tiga aspek: Pengetahuan
luas, hanya mungkin diperoleh apabila
komunikator membangun jaringan social, mengasah kepekaan intelektual, dan
mengembangkan ikatan serta norma-norma social pada unit satuan masyarakat
terbawa sampai dengan unit satuan masyarakat lapis menengah dan atas. Proses
interaksi social yang dilakukan tidak lagi dibatasi sekat-sekat structural
formal secara hierarkis dan kaku.
Kepribadian terpercaya.
Hanya dapat dibangun melalui proses panjang relasi dan interaksi social secara
harmonis.
Status terhormat,
sebagai salah satu bentuk pengakuan dan penghargaan social, tidaklah datang
tiba-tiba dan sekali jadi. Seseorang menyandang predikat terhormat secara
social, apabila orang itu tidak melakukan perkataan, sikap dan perbuatan
tercela.
Pada
akhirnya, ethos harus tunduk kepada
kaidah dasar sosiologis: pikiran baik (good
sense), akhlak baik (good moral
character), dan maksud baik (good
will). Tujuan baik (good will),
dapat dirumuskan sebagai pengikat kasat mata mengenai tindakan apa pun yang
dilakukan seorang komunikator. Tujuan baik akan membawa media massa ke dalam
kehormatan dan penghormatan secara layak dari lingkungan.
PATHOS
Pada dimensi ini, komunikator media massa
melalui pesan-pesan yang diproduksi dan disebarluaskannya, ditantang untuk
senantiasa mampu menyentuh hati khalayak (audience
heart touch). Para ahli sosiologi komunikasi massa mengingatkan,
pesan-pesan komunikasi massa harus dapat menyentuh hati sekaligus membangkitkan
empati social.
LOGOS
Pada dimensi ini, komunikator media massa
disyaratkan menguasai materi pesan dengan baik. Materi pesan harus berkualitas
tinggi, memiliki nilai jual prima, sarat data, dengan diperkuat latar belakang
serta argument-argumen yang meyakinkan.
DAYA TARIK KOMUNIKATOR DAN
KEPERCAYAAN KEPADA KOMUNIKATOR
Teori dasar ilmu komunikasi menyebutkan,
terdapat dua syarat penting yang harus dikuasai dengan baik oleh para
komunikator media massa: aspek daya tarik komunikator (source of attractiveness), dan aspek kepercayaan kepada komunikator
(source of credibility).
DAYA TARIK KOMUNIKATOR
Betapapun teori komunikasi mengajarkan
seorang komunikator harus memiliki daya tarik secara fisik, dia tidak
serta-merta dapat melepaskan diri dari kaidah, norma-norma, atau ikatan
kelompok. Justru daya tarik itu selayaknya dibangun di atas landasan kaidah dan
norma-norma kelompok agar kelak tak melahirkan friksi dan konflik. Dalam
realitas film atau dramaturgi, daya tarik fisik berhubungan dengan masalah
postur tubuh, penampilan, aksesoris, pakaian dan perhiasan yang digunakan,
serta perangkap dekorasi atau tata panggung. Semuanya diberi sentuhan
kreativitas dan polesan seni peran agar seluruh komponen tampil lebih menarik
serta menjanjikan.
Siapa pun komunikator komunikasi massa,
jika ingin meraih sukses tidak ada pilihan lain kecuali masuk dalam realitas
itu berikut aneka tuntutan serta konsekuensi yang menyertainya. Jika tidak,
ibarat sebuah pertunjukkan, siap-siap saja turun dari panggung dan disoraki
massa penonton. Sandal jepit pun dipastikan ikut beterbangan!
KEPERCAYAAN KEPADA KOMUNIKATOR
Kepercayaan kepada komunikator ditentukan oleh
keahliannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. Penelitian menunjukkan bahwa
kepercayaan yang besar akan dapat meningkatkan daya perubahan sikap, serta
kepercayaan yang kecil akan mengurangi daya perubahan yang menyenangkan.
Kepercayaan kepada komunikator mencerminkan bahwa pesan yang diterima komunikan
dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Juga pada umumnya diakui
bahwa pesan yang dikomunikasikan mempunyai daya pengaruh lebih besar apabila komunikator
dianggap sebagai seorang ahli (Effendy, 1993: 43-44).
Kepercayaan khalayak komunikan kepada
komunikator hanya mungkin diberikan apabila komunikator senantiasa menjaga
kredibilitas dan integritas dirinya sebagai sosok intelektual dan professional
yang terhormat. Ia tidak tergoda dengan berbagai macam bujuk-rayu negatif yang
hanya akan membawa dirinya ke dalam penurunan derajat bahkan penistaan secara
etika professional dan social. Ambil saja contoh di dunia parlemen, meskipun
mungkin contoh ini tak berhubungan sama sekali. Sudah berapa banyak anggota DPR
kita yang dijadikan tersangka terdakwa terpidana dan masuk penjara? Bukankah
semula mereka adalah orang-orang terhormat dengan derajat kepercayaan dari
masyarakat sangat tinggi? Jadi, sosiologi kepercayaan selayaknya dijadikan
rujukan utama oleh para komunikator komunikasi massa di mana pun, baik secara
individual maupun secara institusional.
SOSIOLOGI PESAN DALAM
KOMUNIKASI MASSA
Yang perlu diperhatikan oleh siapa pun
yang hendak berkomunikasi dengan baik. Keempat kondisi itu ialah: (1) pesan
dirancang secara menarik; (2) pesan menggunakan symbol yang sama; (3) pesan
membangkitkan kebutuhan khalayak; (4) pesan memberikan jalan keluar atau
alternatif tindakan. Sosiologi pesan, pada intinya mengingatkan kita untuk
jangan sekali-kali bersikap asocial, apalagi amoral, dalam mempersiapkan,
merancang, dan mereproduksi pesan agar tersebar secara simultan dan massif.
PESAN DIRANCANG MENARIK
Orang yang berbicara dengan gaya
percakapan cenderung dipandang lebih dapat dipercaya tetapi kurang dinamis.
Persepsi tentang keahlian ternyata tidak dipengaruhi oleh cara penyampaian.
Selain pelaku persepsi dan topic yang dibahas, factor situasi juga memengaruhi
kredibilitas. Pembicara pada media massa memiliki kredibilitas lebih tinggi
dibandingkan dengan pembicara pada pertemuan tingkat RT (Rakhmat, 1993:
259-260).
PESAN
MENGGUNAKAN SIMBOL YANG SAMA
Berarti menunjuk kepada bahasa yang sama
sekaligus mengandung pengertian dan pemahaman yang sama bagi komunikator dan
khalayak komunikan. Artinya, hitam
kata komunikator, harus juga dipahami hitam
oleh komunikan. Tidak boleh hitam
menurut komunikator, tetapi kemudian diartikan menjadi putih atau merah dalam
pandangan dan keyakinan khalayak komunikan.
PESAN
MEMBANGKITKAN KEBUTUHAN KHALAYAK
Tidak semua pesan yang diterima dan
direspons itu menarik, atau penting, atau kedua-duanya menarik dan penting.
Cukup banyak juga pesan informasi yang tidak penting, tidak menarik, dan
sifatnya remeh temeh. Tetapi orang terlanjur mengonsumsinya pula karena
berbagai alasan, atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Fenomena ini misalnya
tampak pada banyaknya tayangan acara infotainment
(informasi dan hiburan) di televisi-televisi komersial kita. Idealnya tentu
khalayak mayoritas, khalayak paling banyak menurut perhitungan populasi
penduduk. Tetapi dalam industry televisi, khalayak mayoritas justru kerap
dikorbankan.
PESAN MEMBERIKAN JALAN KELUAR
ATAU ALTERNATIF TINDAKAN
Pesan komunikasi massa yang baik ialah
pesan yang memberikan jalan keluar atau alternatif tindakan yang perlu ditempuh
oleh khalayak komunikan. Pernyataan ini muncul dua pandangan. Pandangan pertama, khalayak media massa
bersifat anonym, heterogen, dan tersebar. Karena sifatnya yang demikian, maka
mamberikan alterative tindakan atau jalan keluar bagi khalayak, merupakan
sesuatu yang positif. Apakah khalayak menerima atau menolak saran tersebut, itu
merupakan perkara lain. Pokok terpenting, berikan saran dan jalan keluar.
Setelah itu selesai sudah.
Pandangan kedua menyatakan, khalayak media
massa memang benar anonym. Heterogen, dan tersebar. Tetapi mereka khalayak yang
kritis, dan sebagian berkepala batu. Mereka tidak akan dengan mudah menerima
begitu saja saran-pandangan dan alternatif tindakan yang diajukan pihak media
massa. Mereka selayaknya dikategorikan ke dalam kelompok khalayak cerdas yang
mampu berfikir mandiri.
PENGATURAN PESAN DALAM
KOMUNIKASI MASSA
Teori Hollingsworth
Menurut Hollingsworth dalam Psychology
of The Audience, pesan yang baik harus memenuhi lima kategori agar dapat
memengaruhi khalayak: perhatian, minat, kesan, keyakinan, dan pengarahan.
Perhatian.
Agar efektif, kata Hellingsworth,
pesan-pesan komunikasi massa harus dapat membangkitkan perhatian khalayak.
Caranya ialah dengan memberikan pilihan daya tarik penyajian atau kemasan
pesan.
Minat.
Jika perhatian hanya dimaksudkan untuk mengusik, atau ibarat menggunakan orang
yang sedang mengantuk, maka minat justru diarahkan pada suatu tindakan yang
konkret dan spesifik. Tugas media massa, ialah menumbuhkan minat khalayak,
paling tidak untuk terus selalu mengikuti perkembangan situasi serta peristiwa
dan menyerap lebih banyak informasi tentang lingkungan sosialnya.
Kesan.
Di balik arus deras informasi yang diberikan kepada khalayak komunikan, niscaya
muncul kesan. Kesan, sesuai dengan namanya, bisa berpijar kepada fakta, tetapi
bisa juga bersandar kepada persepsi dan asumsi-asumsi. Kesan positif harus lebih
menonjol daripada kesan negative. Jika yang terjadi sebaliknya, maka strategi
sosiologi komunikasi massa kita patut ditinjau kembali. Pasti ada sesuatu yang
keliru atau salah.
Keyakinan.
Jika kesan positif sudah ditebar dan tertanam kuat di benak khalayak, maka
khalayak perlu diyakinkan mengenai apa yang akan dilakukannya itu memang sudah
tepat dan benar. Keyakinan antara
lain diperoleh dengan cara memberikan argumentasi-argumentasi logis, teoretis,
dan empiris.
Pengarahan,
mendorong khalayak untuk tidak membuang-buang waktu, mengambil keputusan secara
cepat dan tepat, serta membangkitkan rasa percaya diri secara fungsional dan
proposional.
Teori Raymond S. Ross
Teori Raymond S. Ross, dikenal dengan rumus atau teori
ANPORA sebagai singkatan dari attention (perhatian),
need (kebutuhan), plan (rencana), objection (keberatan), reinforcement (peneguhan), dan action (tindakan).
Perhatian. Sama
seperti teori Hollingsworth, pada fase ini khalayak dibangkitkan perhatiannya
agar siap menerima serangkaian pesan dengan volume cukup banyak dari pihak
komunikator.
Kebutuhan. Jika
orang sudah memusatkan perhatian, maka tahap berikutnya ialah memberikan
kepadanya apa-apa yang dibutuhkan . ibarat orang sudah masuk restoran sipa
saji, ia harus segera ditawari daftar menu.
Rencana. Jika
kebutuhan sudah tersedia, maka perlu dijelaskan rencana apa saja yang akan
dilakukan ke depan. Berbagai hal popok yang berkaitan dengan rencana diingatkan
dan di bahas secara kontekstual dan visioner.
Keberatan. Dalam
proses berfikir dialektis, tak setiap hal berjalan linear atau hanya sebatas
garis lurus. Dalam bahasa sosiologi, setiap ada konflik, akan lahir sebuah harmoni,
atau paling tidak kompromi. Hanya dengan demikian, suatu orde sosial bisa terus
berlanjut dan peradaban bisa dipertahankan.
Peneguhan. Orang
yang menerima keberatan, penolakan, dampak negatif, sesuatu yang merugikan atau
mengerikan, sesugguhnya sedang menerima rentetan pukulan psikologis. Mental
sedang dihancurkan. Egonya sedang diruntuhkan. Hanya orang dengan kapabilitas
dan kredibilitas tinggi saja yang bakal lolos dan lulus dari ujian kejiwaan
semacam ini. Hasilnya pasti: khalayak akan menyakini pesan yang diterimanya
adalah berkah dan bukan musibah!
Tindakan. Perlu
diingat, khalayak media massa sering berada dalam situasi serba ketergesaan.
Ruang untuk bergerak sangat terbatas, ruang untuk berpikir pun sangat terbatas.
Jika dalam situasi serba darurat seperti ini, media massa tidak mengambil
insiatif alternatif tindakan yang harus dilakukan khalayak konmunikas?
Keputusan harus diambil, tindakan harus berjalan.
Teori Alan H. Monroe
Teori Alan Monroe dikenal dengan sebutan ANSVA sebagai
singkatan dari attention (perhatian),
need (kebutuhan), satisfaction (pemuasan), visualization (penggambaran), dan action (tindakan).
Perhatian. Dapatkah
kita mengajak khalayak melakukan sesuatu padahal kita tidak membangkitkan
perhatian mereka terlebih dahulu? Jelas tidak. Perhatian itu sangat penting dan
bakhan sesuai dengan naluri serta sifat-sifat dasar manusia. Dalam ilmu
retorika dikatan, sentuhlah pendengaranmu pertama-tama dengan perhatian yang
menarik. Setelah itu barulah isi kepalanya dengan pengetahuan yang bermanfaat.
Kebutuhan. jika
khalayak sudah dalam posisi siap menerima pesan terburuk sekali pun, bukankah
tidak ada cara terbaik kecuali segera memenuhi kebutuhan yang dicarinya?
Sajikan kebutuhan, dan penuhi kebutuhan itu dengan serangkaian pesan aktual serta
akurat dengan tingkat objektivitas sangat tinggi. Jika khalayak butuh jambu,
maka berilah jambu yang manis.
Pemuasan. Jika
pesan yang dirancang sudah diasumsikan memenuhi kebutuhan khalayak, fase
berikutnya ialah berusaha untuk memberi kepuasan. Pesan apa pun yang tidak
memuaskan kebutuhan khalayak, niscaya hanya akan melahirkan kekecewaan publik
sekaligus akhirnya bisa meruntuhkan kredibilitas media.
Penggambaran. Penggambaran
atau vidualisasi, sangat diperlukan dalam strategi rancangan pembuatan dan
penyebaran pesan. Jika aspek pemuasan
lebih banyak menunjukan kepada subtansi pesan, makan penggambaran atau visualisasi lebih menekankan kepada pengemasan
pesan. Pesan apa pun harus dikemas dengan baik. Khalayak tidak boleh dibiarkan
hanyut dalam keraguan atau bahkan keputusasaan. Khalayak harus diyakinkan,
dimotovasi, untuk akhirnya diminta melakukan eksekusi. Artinya, khalayak
melakukan suatu tindakan yang diasumsikan dangan bermanfaat bagi dirinya dan
sekaligus bagi lingkungan sosialnya sesegera mungkin.
PENELITIAN ISI PESAN DALAM KOMUNIKASI MASSA
Penelitian isi pesan media massa dilakukan melalui
beberapa metode dan pendekatan. Satu di antaranya melalui analisis isi.
Analisis isi dalam buku ini didefinisikan sebagai teknik penelitian untuk
memeperoleh gambaran isi pesan komunikasi massa yang objektif, sistematik, dan
relevan secara sosiologi. Objektivitas mentut agar kategori analisis
didefinisikan secara jelas dan operasional sehingga para penelitian lain dapat
mengikutinya dengan tingkat reliabilitas cukup tinggi. Analisis yang sistematik
menghendaki semua isi (content) yang
relevan, diteliti berdasarkan kategori yang bermakna (Wright, 1985: 137).
Tokoh Orang Ternama dalam Biografi
Loe Lowenthal dalam Biografies
in Popular Magazines, telah menganalisis sampel sistematis mengenai semua
biografi orang ternama dalam dua majalah populer Amerika, yakin colliers dan Saturday Evening Post, selama empat dasawarsa pertama abad 20.
Idola produksi dalam ruang lingkup politik, bisnis, dan profesi, telah
mendominasi periode awal. Sedangkan idola
konsumsi, terutama dalam bidan
hiburan, telah menonjol dalam periode akhir dasawarsa.
Realitas dalam Drama Televisi
Seperti dilaporkan Dallas Smythe dama Three Years of New York Television, pada
1953 telah dilakukan analisis isi sistematis mengenai semua acara siaran
televisi di Kota New York, Amerika Serikat, Selama minggu pertama Januari.
Dianalisis 68 acara drama televisi, kemudian dalam hal karakteristik sosial dan
psikologis pahlawan, penjahat dan pemeran pendukung, dan akhirnya dalam
kualitas yang dikenakan pada kelompok-kelompok kerja dalam cerita itu.
Realitas dalam Siaran Iklan Televisi
Hasil penelitian yang dilaporkan Dominisk dan Rauch dalam
The Image of Women in Network TV Commercials
(1972), cukup menarik.
Kaum pria dalam siaran iklan televisi telah memerankan 43
macam pekerjaan, danwanita hanya 18 macam pekerjaan. Lebih dari setengah jumlah
wanita ini terlihat dalam peran isi rumah tangga atau ibu. Satu dari setiap
tujuan orang pria terutama tergambarkan sebagai seorang ayah atau suami.
Contoh-contoh lainnya dapat ditambahkan, tetapi hasil analisis isi tersebut
cukup untuk menggambarkan bahwa peran minoritas tertentu tampil lebih menonjol
pada televisi Amerika. Bahkan mungkin pula pada isia media massa lainnya
seperti surat kabar, majalah, dan radio siaran (Wright, 1985: 157-158).
VI
SOSIOLOGI KHALAYAK DALAM KOMUNIKASI MASSA
Rangkuman
Richard
T La. Piere dalam Theory of Social Control, berpendapat bahwa lingkungan
inti seperti rumah, keluarga, gereja, dan jaringan persahabatan, lebih
memengaruhi nilai nilai, sikap dan prilaku individu daripada media massa.
Orang-orang berpaling ke media untuk memperoleh apa yang mereka cari, bukan dalam
kerangka menyediakan diri untuk dipengaruhi.
Khalayak berbagai media, melalui dari surat kabar sampai dengan film, memiliki
ciri-ciri spesifik, meskipun dalam sejumlah hal juga menunjukan kesamaan tertentu.
Pemirsa televisi misalnya, biasanya jarang menggemari buku. Sedangkan pembaca
setia surat kabar biasanya bukan merupakan menggemar film. Bahkan terhadap satu
jenis media, ketertarikan khalayak berbeda-beda, bergantung kepada profesi,
minat, dan selera mereka. Dari berbagai penelitian terungkap, terdapat empat prinsip
umum perilaku khalayak komunikasi massa.
Rivers Jensen, dan Peterson, dalam Mass
Media and Modern Society mengajukan pertanyaan menarik: atas dasar apakah
orang-orang memilih media? Wilbur
Schramm dari Universitas Stanford menawarkan jawaban sementara atas pertanyaan itu. Ia mengajukan dua
prinsip yang menjadi dasar pemilihan, yakin prinsip kemudian, dan prinsip harapan-imbalan memperoleh sesuatu.
Rivers dan kawan-kawan menyimpulkan, tiap orang menggunakan media secara
berbeda. Usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi,
mempengaruhi alasan seseorang menggunakan media. Selain itu masih banyak faktor
lain yang tidak terlalu tampak seperti sikap individual, aspirasi, harapan,
ketakutan. Semua faktor itu tidak saja memengaruhi penggunaan media oleh
seseorang, tetapi juga memengaruhi apa yang akan ditemukannya dari media.
VII
EFEK SOSIOLOGIS DALAM
KUNIKASI MASSA
RANGKUMAN
Teori uses and gratifications (penggunaan
dan pemenuhan) digambarkan sebagai a
dramatic break with effects tradition of the past, atau suatu loncatan
dramatis dari model jarum hipodermik. Model ini tidak tertarik pada apa yang
dilakukan media pada diri orang, tetap ia tertarik ia pada apa yang dilakukan
orang terhadap media. Anggota khalayak dianggap secara aktif menggunakan media
untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam asumsi ini tersebut pengertian bahwa media
komunikasi massa dengan (utility); konsumsi
media diarahkan oleh motif (intentionality);
prilaku media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity); dan khalayak sebenarnya berkepala batu (stubborn).
Steven H. Chaffee, Menyebutkan terdapat lima efek kehadiran media massa
secara fisik: efek ekonomis, efek sosial, efek penjadwalan kembali, efek pada
penyaluran atau penghilangan perasaan tertentu, dan efek pada perasaan orang
terhadap media. Sedangkan Paul Lazarsfeld dan Robert K. Merton dalam Mass Communication: Popular Taste and Social
Action (1948) telah merumuskan terhadap empat sumber keprihatinan
masyarakat terhadap media massa: ubiquity,
status quo, kemorosotan cita rasa estetis, dan penghilangan sukses sosial.
Secara sosiologis media massa memiliki tiga efek
prososial: efek prososial kognitif, efek prososial afektif, dan efek prososial
behavioral. Pada tahun1960, Joseph Klapper melaporkan hasil penelitian
komprehensif tentang efek media massa. Dalam hubungannya dengan pembentukan dan
perubahan sikap, pengaruh media massa dapat disimpulkan pada lima prinsip umum.
Denis
McQuail, melihat efek atau dampak komunikasi massa dalam beberapa kategori dan
jenis. Ia mengatakan ada efek komunikasi massa yang diinginkan, pada pula efek
komunikasi massa yang tidak diinginkan. Selain itu, ada efek dalam rentang atau
lingkup jangka pendek, terhadap faktor yang disengaja dan faktor tidak
disengaja. Begitu pula dalam efek jangka panjang, ada yang termasuk disengaja;
ada juga yang termasuk tidak di sengaja.
Teori
spiral kebisuan dari Neolle-Neumann bertitik tolak dari asumsi dasar bahwa
orang-orang umumnya secara alamiah memiliki rasa takut terkucil. Dalam
pengungkapan opini, mereka berusaha menyatu dengan mengikuti opini mayoritas
atau konsensus. Sedangkan teori
pengendalian sosial berpendapat bahwa umunya tindakan media mendukung
nilai-nilai dominan dalam masyarakat atau bangsa, melalui gabungan pilihan
pribadi dan lembaga, tekanan dari luar, dan antisipasi tentang apa yang
diharapkan dan diinginkan khalayak yang benar dan heterogen.
BAB
VIII
DIMENSI
SOSIOLOGIS FUNGSI KONTROL SOSIAL MEDIA MASSA
Kontrol social (social control) merupakan salah satu
fungsi pers yang sangat penting, terutama di Negara yang menerapkan system
pemerintahan yang demokratis. Kekuatan utama media massa sebagai alat control
social terletak pada fungsinya sebagai pengawasan lingkungan. Pelaksanaan
fungsi control social oleh pers sebagian besar ditujukan kepada pemerintah dan
aparatnya: yakni apakah pemerintah dan aparatnya melaksanakan kebijakan sesuai
dengan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, fungsi ini selalu membela
kepentingan masyarakat.
Media massa adalah salah satu
lembaga social. Kedudukannya tidak lebih tinggi dibandingkan dengan
lembaga-lembaga social yang lain. Tidak pula lebih rendah. Setiap media massa
mempunyai fungsi control social. Hanya saja dalam pelaksanaan intensitasnya
berbeda-beda. Perbedaan ini banyak bergantung kepada system social, politik,
dan ekonomi tempat media massa itu beroperasi. Surat kabar yang melaksanakan
fungsi ini, misalnya, selalu bertindak sebagai pembela public atau selalu
menjadi the watch dog of the public
interest.
Control social secara represif
berarti media massa memberikan sanksi-sanksi terhadap anggota masyarakat yang
diyakini melanggar nilai-nilai dan norma-norma social budaya agama yang
berlaku. Terdapat dua masalah pokok yang erat kaitannya dalam masalah control
social: konformitas dan deviasi. Konformitas
adalah penyesuaian diri dengan masyarakat, dengan mengikuti norma-norma
yang berlaku. Jika perilaku seseorang itu bertentangan dengan norma yang
berlaku. Jika perilaku seseorang itu bertentangan dengan norma yang berlaku, ia
akan dicela oleh anggota-anggota masyarakat. Sebaliknya deviasi adalah penyimpangan dari kaidah-kaidah dan nilai-nilai
dalam masyarakat. Perilaku menyimpang ini dapat terjadi apabila tidak ada
keselarasan antara nilai-nilai social dengan norma-norma yang berlaku.
Untuk mengusahakan terjadinya
konformitas, control social sesungguhnya dapat dilaksanakan dengan menggunakan
insentif-insentif positif. Intensif adalah dorongan positif yang akan membantu
individu-individu untuk segera meninggalkan pekerti-pekertinya yang salah atau
menyimpang. Seperti juga sanksi, insentif pun bisa dibedakan menjadi tiga
jenis: insentif yang bersifat fisik, insentif yang bersifat psikologik, dan
insentif yang bersifat ekonomik.
Dengan merujuk kepada teori control,
teori pertukaran social, dan teori pilihan rasional, sedikit-banyak kita bisa
memetakan berbagai persoalan yang bersinggungan dengan media, konflik paling
tidak dapat dilihat dari dua perspektif: redaksional dan komersial. Perspektif
redaksional, media memiliki tanggung jawab social serta etika professional
untuk mengecilkan dan bahkan memadamkan konflik, menegaskan komitmen sekaligus
orientasi media massa dalam mencari keuntungan.
BAB
IX
TEKNOLOGI
INFORMASI, CYBERSPACE, DAN
HIPER-REALITAS MEDIA
Teknologi
informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan
mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis. Mikro-komputer. Computer mainframe, pembaca barcode, perangkat lunak pemroses transaksi, perangkat lunak lembar
kerja (spreadsheet), serta peralatan
komunikasi dan jaringan, merupakan contoh teknologi informasi. Secara garis
besar, teknologi informasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: perangkat
keras (hardware) dan perangkat lunak
(software).
Lahirnya era
komunikasi interaktif ditandai dengan terjadinya diversifikasi teknologi
informasi, yaitu bergabungannya telepon, radio, computer, dan televisi menjadi
satu dan menandai teknologi yang disebut dengan internet. Internetlah yang
menghubungkan computer pribadi yang paling sederhana hingga computer super
canggih. Inilah struktur jaringan computer yang saling berhubungan satu sama
lain.
Dalam internet
kita menemukan cyberspace (dunia
maya) dan cyber-community (masyarakat
maya). Pada awalnya masyarakat maya adalah sebuah fantasi manusia tentang dunia
lain yang lebih maju dibandingkan dengan dunia saat ini. Fantasi tersebut
adalah sebuah hiper-realitas manusia tentang nilai, citra, dan makna kehidupan
manusia sebagai lambang dari pembebasan terhadap kekuasaan materi dan alam semesta.
Namun ketika teknologi manusia mampu mengungkapkan misteri pengetahuan itu,
manusia mampu menciptakan ruang kehidupan baru baginya dalam dunia hiper-realitas itu.
Masyarakat maya
menggunakan seluruh metode kehidupan masyarakat nyata sebagai model yang
dikembangkan dalam segi-segi kehidupan masyarakat maya. Hiper-realitas media
menciptakan satu kondisi sedemikian canggih sehingga di dalamnya kesemuanya
dianggap lebih benar daripada kebenaran; isu lebih dipercaya dibandingkan
dengan informasi; rumor dianggap lebih benar dibandingkan dengan kebenaran.
Hiper-realitas media tidak terlepas dari perkembangan teknologi media, yang
disebut teknologi simulasi (simulation
technology).
Hiper-realitas
media telah menilbulkan enam bentuk dampak sosio-kultural: disinformasi,
depolitisasi, banalisasi informasi, fatalitas informasi, skizofrenia, dan
hipermoralitas. Untuk mencegah berkembangnya hiper-realitas media kea rah yang
ekstrem, perlu dilakukan enam langkah anti-sipasi: dehiper-realitas media, civic education, countermedia, pemantauan
media (media watch), literasi media (media literacy), dan intensifikasi
komunikasi keluarga.